Jumat, 01 April 2011

Roket Fisika

Roket Fisika

Alat:
  •  Botol redoxon
  •  Karton buffallo
  • Pilox
  • Hiasan

 Bahan:
  • Tablet redoxon
  •  Cuka
  •  Adem Sari
  •  Soda Kue
  

Foto-foto saat membuat roket.





Percobaan pertama menerbangkan roket. (Rabu, 16 Maret 2011)




 Karena roket mengalami kerusakan, desainnya diubah seperti ini.



Ini videonya.

video

Percobaan pertama menerbangkan roket. 


video

Percobaan kedua (5 meter).

video

Percobaan ketiga.

Jumat, 11 Februari 2011

Laporan Praktikum “Kesetimbangan Benda Tegar“

Laporan Praktikum  
“Kesetimbangan Benda Tegar“


A. Tujuan 

Untuk mencari tahu besar momen gaya (torsi) pada suatu kasus.


B. Alat dan Bahan
  • Kertas milimeter block ukuran A3
  • Katrol licin (2 buah)
  • Tali
  • Penggaris
  • Beban (2 buah beban 50 gr dan 1 buah beban 55 gr) 

C. Teori

     Momen Gaya disebut juga Torsi atau τ adalah kemampuan gaya F untuk memutar benda pada poros sejauh R. Rumus Torsi adalah τ = F x R.
Penggaris (batang homogen) bermassa 20 gr dan mempunyai panjang 30 cm digantung dengan dua buah tali pada ujung kanan dan kirinya. Masing-masing tali dihubungkan pada sebuah katrol licin dan diberi beban sebesar 50 gr. Pada sisi kanan penggaris sejauh 10 cm dari ujungnya dililitkan sebuah tali yang diberi beban sebesar 55 gr. Penggaris itu sendiri mempunyai gaya berat W. Gaya-gaya yang bekerja pada penggaris tersebut akan mempunyai Torsi = 0 saat berada dalam posisi setimbang. Keadaan ini dilukis pada kertas millimeter block dengan skala 0.1 N = 1 cm.


D. Data 

Skala: 0.1 N = 1 cm
Gambar 1



Uraikan vektor T 1 dan T 2 ke sumbu x dan sumbu y. 
      Gambar 2



E. Analisis Data


Berdasarkan gambar 2: Tabel 1


No.
∑ F x
∑ F y
F 1.
T x 1 = + 0.3 N
T y 1 = + 0.4 N
F 2.
T x 2 = - 0.3 N
T y 2 = + 0.4 N
F 3.

W 3 = - 0.55 N
F 4.

W o = - 0.20 N

0 N
0.05 N



Anggap A sebagai poros diam, maka Tabel 2


No.
F
R
τ  = F x R
F 1.
T y 1 = + 0.4 N
29.2 cm
11.68 N.cm
F 2.
T x 1 = + 0.3 N
7.5 cm
2.25 N.cm
F 3.
W 3 = - 0.55 N
19.5 cm
- 10.725 N.cm
F 4.
W o = - 0.20 N
14.6 cm
- 2.92 N.cm
F 5.
T y 2 = + 0.4 N
0 cm
0 N.cm
F 6.
T x 2 = - 0.3 N
0 cm
0 N.cm


0.285 N.cm




F. Kesimpulan
  • Berdasarkan data dari Tabel 1, nilai ∑ F x = 0 N. Hal ini sesuai dengan teori kesetimbangan. Hal ini terjadi karena T x 1 dan T x 2 nilainya sama, sehingga keduanya saling meniadakan.
  • Berdasarkan data dari Tabel 1, nilai ∑ F y = 0.05 N. Hal ini tidak sesuai dengan teori kesetimbangan. Hal ini terjadi karena beban yang digantung bermassa 55 gr, bukan 60 gr. T y 1 dan T y 2 nilainya sama, yaitu 0.4 N. W o nilainya 0.2 N karena merupakan gaya berat penggaris yang bermassa 20 gr. Jadi, bila beban yang digantung bermassa 60 gr, perhitungan akan sesuai dengan teori kesetimbangan.
  • Berdasarkan data dari Tabel 2, nilai τ = 0.285 N.cm. Hal ini tidak sesuai dengan teori kesetimbangan. Hal ini terjadi karena pengaruh kesalahan menjiplak gambar penggaris dan tali-talinya dari papan dengan posisi yang kurang sesuai sedikit. Namun, nilai τ = 0.285 N.cm tersebut bila dibulatkan akan mendekati 0 N.cm, sehingga akan sesuai dengan teori kesetimbangan. 
  • Pada saat keadaan benda setimbang (diam), gaya-gaya yang bekerja pada benda tersebut mempunyai resultan 0. Gaya-gaya tersebut akan saling meniadakan. Inilah teori kesetimbangan.

Jumat, 28 Januari 2011

Karya Tulis Ilmiah Fisika

LAYAR LCD GANTUNG

Syarat suatu benda berada dalam keadaan setimbang adalah jika jumlah momen gaya atau torsi sama dengan nol. Momen gaya atau torsi dilambangkan dengan simbol τ (baca: Tau) dengan satuan Nm (baca: Newton meter). Torsi adalah tenaga putar, yaitu kemampuan gaya F untuk memutar benda pada poros sejauh R.
Kesetimbangan artinya keadaan benda tidak ada gaya atau torsi yang bekerja atau resultannya nol. Benda tegar adalah benda yang tidak mengalami perubahan karena pengaruh gaya dan torsi.






Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa sebuah roll bermassa 2 kg digantung pada dua buah kawat yang masing-masing ditahan oleh sebuah tuas bermassa 1 kg.

Gaya tegang kawat = T

τ = 0  dengan B sebagai poros diam
2 T mengarah ke atas, keduanya positif (karena CW).
W mengarah ke bawah, negatif (karena CCW).

τ = 0
τ W1 – τ T – τ T = 0
F . R – F . R – F . R = 0
20 . 2.5 – T . 0.3 – T . 2.2 = 0
50 – 0.3 T – 2.2 T = 0
50 = 2.5 T
T = 20 N

Dengan demikian, T dapat ditemukan nilainya.


Sekarang pada gambar tuas mendatar di atas dapat dilihat tuas bermassa 1 kg ditarik ke bawah oleh kawat yang mempunyai gaya tegang 20 N. Tuas tersebut mempunyai gaya N ke atas dan gaya berat W ke bawah.

Gaya N menahan mengarah ke atas untuk melawan gaya T (20 N) dan W (10 N). Jadi, gaya N adalah sebesar 30 N.




Sekarang pada gambar tuas vertikal di atas dapat dilihat tuas bermassa 3 kg mempunyai gaya berat W ke bawah, gaya F paku ke dinding / tembok, dan gaya normal N yang berlawanan arah dengan gaya dinding. Penyangga vertikal ini juga menahan penyangga mendatar, sehingga terdapat gaya N penyangga mendatar ke atas. Dalam kasus ini, F dan N saling meniadakan dan besarnya sama. N penyangga mendatar juga mempunyai besar yang sama dengan W sehingga keduanya saling meniadakan.

N penyangga mendatar = W
N penyangga mendatar = m . g
N penyangga mendatar = 3 . 10
N penyangga mendatar = 30 N

F = N
30 N = 30 N


Referensi gambar:
Hasil jepretan dan ilustrasi kelompok.

Jumat, 14 Januari 2011

Anggota Kelompok 6 Kelas XI IPA 2

1.) Angelina Pamela (02)

2.) Beatrice Setiawan (03)















3.) Ronald Tjondro (16)












4.) Cindy Julian (22)

Rabu, 12 Januari 2011